Dua tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali mengharumkan nama almamater setelah meraih prestasi gemilang pada ajang internasional Maju:on Hackathon 2025. Kompetisi kewirausahaan yang digelar oleh UD Impact dengan dukungan SK Innovation E&S di Korea Selatan ini menjadi wadah bagi inovator muda untuk menciptakan solusi berkelanjutan berbasis teknologi ramah lingkungan. Pada kategori Student Track, delegasi UGM sukses menyabet Juara 1 dan Juara 2.
Maju:on Hackathon sendiri merupakan program akselerasi yang bertujuan memfasilitasi mahasiswa serta founder muda dalam mengembangkan ide bisnis yang menjawab tantangan global, mulai dari energi bersih hingga ekonomi hijau. Tahun 2025, kegiatan ini terlaksana melalui kolaborasi delapan perguruan tinggi Indonesia: UGM, UI, ITB, UNNES, UNS, UPI, Telkom University, dan Universitas Primakara. Dari proses kurasi yang panjang, terpilih 16 tim yang mendapatkan kesempatan tampil di babak final.
Acara puncak yang berlangsung di The Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jakarta, menghadirkan juri dan mentor dari akademisi, industri, hingga investor teknologi hijau. Para peserta mempresentasikan gagasan bisnis mereka yang dinilai dari aspek keberlanjutan, dampak sosial, dan potensi implementasi di dunia industri.
Tim Mycomarine (Seathera) dari UGM tampil sebagai Juara 1 lewat inovasi Seathera, kemasan ramah lingkungan berbahan mycelium yang mampu terurai secara alami. Produk yang dikembangkan dari limbah pertanian dan tanaman air invasif ini dirancang sebagai pengganti styrofoam untuk industri ikan hias. Selain mengurangi sampah plastik, inovasi ini memperkenalkan alternatif bahan yang lebih ekologis. Tim ini beranggotakan Gerson Lewis (Pertanian), Brilliant Christalia Anjani (Teknologi Pertanian), Viena Kurniawan (Sekolah Vokasi), dan Felicia Jeanete Adelyn (Teknologi Pertanian).
Sementara itu, posisi Juara 2 diraih Faiz Armani Farid Attamimy (MIPA) dengan inovasi Caisitant, yaitu produk purifikasi air yang memanfaatkan biji kelor sebagai koagulan alami. Serbuk kelor berperan mengikat kotoran dalam air melalui proses sederhana, sehingga menghasilkan air lebih jernih tanpa bahan kimia berbahaya. Solusi ini dinilai relevan bagi daerah yang memiliki keterbatasan akses air bersih.
Faiz mengungkapkan bahwa kompetisi ini memberinya pengalaman baru yang sangat berharga. Ia mengakui banyak belajar tentang pengembangan ide bisnis berbasis keberlanjutan dan mendapat inspirasi dari peserta lain. Ia juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada para coach yang telah mendampingi sepanjang kompetisi.
Raihan dua tim UGM ini membuktikan kemampuan mahasiswa dalam menggabungkan pengetahuan akademik, kreativitas, serta kepedulian sosial ke dalam inovasi berdampak nyata. Keberhasilan tersebut juga memperkuat posisi UGM sebagai salah satu pusat inovasi terkemuka di Indonesia sekaligus menegaskan komitmen universitas dalam membentuk generasi muda yang adaptif terhadap isu global.
Melalui dukungan unit kewirausahaan, inkubator bisnis, dan jaringan mitra internasional, UGM terus mendorong tumbuhnya ekosistem inovatif yang berkelanjutan. Prestasi ini diharapkan memotivasi mahasiswa lainnya untuk terus berkreasi, mengembangkan potensi, dan berkontribusi bagi pembangunan berkelanjutan di Indonesia maupun dunia.